Sabtu, 14 Maret 2015

Just See You -2-


Lagi-lagi pulang telat, tapi kali ini bukan karena tugas sebagai ketua kelas, melainkan tugas sebagai pelajar, ya apalagi kalau bukan belajar. Wow, betapa rajinnya Kia ya, sampai mau belajar di sekolah. Ini karena si babon Yoga. Dia teman sekelas ku, dan di kelas tadi dia tak sengaja menumpahkan minumannya pada buku Biologi ku. Dan semuanya ba...sah. Besok aku ulangan biologi, ya terpaksa harus pinjam buku biologi di perpustakaan, dan karena aku tak mau membawa pulang, lebih baik belajar saja disana, sekalian untung-untung mendownload gratis. Haha. Ya, itu satu hal yang membuat ku suka berada di perpustakaan. Wi-fi nya...
Aku berjalan cepat karena aku takut sekolah ini sudah hampir sepi. Melewati koridor satu ke koridor satu lagi, hingga aku berada di koridor terakhir. Tapi ada suara... tangisan! Oh ya ampun, apa aku harus pergi atau melihat? Aku penasaran, tapi biasanya kalau kita penasaran dan memeriksanya kita akan menemukan hal yang aneh dan menakutkan. Tidak! Aku terlalu sering menonton film horror, yang berdampak pada mental ku sekarang ini, hanya sebesar biji kuaci. Aku harus memeriksanya.
Dan.... ya. Aku menemukan hal yang aneh dan juga menakutkan. Yang membuatku tak bisa pergi dari situ, yang membuat asupan oksigen ku kembali menghilang dan membuat jantungku seakan di remas. Kalfa, disana. Dan ada... Rila. Mereka berpelukan. Kalfa. Rila. Berpelukan.

***

Malam itu aku menangis tapi tidak seperti orang gila yang menangis kencang. Karena orang tua ku dan juga Kevin pasti akan bertanya. Mati saja kau, Kalfa! Apa kau tau apa yang kurasakan? Oh sial. Kalfa selingkuh dari mu, Kia! Kalfa sial! Sial! Sial! Tidak.... Kalfa tak selingkuh. Aku bukan siapa-siapa nya. Ya, bukan siapa-siapa nya. Bahkan... dia tak mengenalku. Kalfa tak salah. Aku yang salah.

***

Pagi ini aku berangkat sekolah. Menjalani hari dengan sesuatu yang baru. Kalian tau apa yang baru? Itu adalah cara ku menangani sesuatu. Aku tersentak kedepan karena terkejut, ada yang menepuk pundakku secara tiba-tiba. “Sial, Rere!” Dan Rere berdiri dihadapanku sambil menunjukan cengiran seperti orang bodoh. “Maaf sih, ngelamun mulu sih. Mikirin tuh orang ya lo?” Ucap Rere sambil melihat ke arah gerbang sekolah. Ketika aku memutar pandanganku, aku hanya bisa terpaku. Tapi hanya sebentar. Dan bergumam “Oh. Bukan.” Aku meninggalkan Rere, lebih baik aku cepat ke kelas. “Wey, Kia!” Aku tau Rere pasti bingung dengan sifatku dan benak nya pasti dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Tapi ini hal yang aku sebut sebagai sesuatu yang baru. Mulai hari ini, aku akan mencoba untuk melupakan Kalfa dengan menganggap seolah-olah dia tidak ada dan membohongi diriku sendiri bahwa aku tidak terpengaruh oleh dia. Ya aku harus melakukan itu. Sudah cukup dua tahun ini. Aku tak mau melanjutkan hal konyol ini lagi. Lebih baik aku fokus dengan kelulusan ku. Ya, betul itu Kia!

***

Pertama kalinya setelah hampir tiga tahun aku sekolah di sini, aku malas ke kantin. Yah... kalian sudah tau alasannya bukan? Tapi tidak dengan ketiga teman ku ini. Mereka sedang menatapku dengan kening berkerut dan Tia menempelkan telapak tangannya di dahiku, “Lo sakit? Kurang tidur? Tumben amat gak mau ke kantin. Ada Kalfa loh, Kalfa.” Tanya Tia. “Gue ok. Males aja.” Jawab ku. “Yaudah mending lo sama Rere ke kantin beli makanan apa kek gitu buat gue sama Kia. Gue disini aja temenin nih anak.” Ucap Nana. Tia dan Rere pergi ke kantin.
Nana langsung duduk disebelahku dan aku tau dia akan mengajukan pertanyaan, karena dia tau aku sedang tidak baik-baik saja. “Lo cerita sama gue deh, Ki. Muka lo sepet gitu suwer. Cerita cepet lo kenapa?” Ucap nya sesuai dugaanku. Aku menghela nafas dan memutuskan untuk bercerita pada Nana. “Kemarin gue liat Kalfa pelukan sama Rila.” Dan tak bisa ku tahan lagi, air mata pun jatuh. “Gue... gue gak ngerti mau gimana lagi. Gue gak bisa marah, karena gue gak ada hak sama sekali.” Ucapku sambil menangis perlahan. “Ya. Lo gak punya hak buat marah. Lo bukan siapa-siapa nya Kalfa.” Ucap Nana yang membuat ku menangis kencang. “Aaaa Nana! Lo gitu sih!” Aku meletakkan kepalaku diatas lengan yang terlipat. “Itu kenyataan, Kia. Gue kan udah bilang, nyatain perasaan lo. Jangan sampe tuh si Kalfa balikan lagi sama si Rila atau deket sama cewek lain. Sekarang? Udah kaya gini. Mereka deket lagi. Nah, karena mereka juga baru deket aja, kenapa lo gak cepet-cepet nyatain perasaan lo ke Kalfa?” Tanya Nana. “Engga mau. Gue malu. Gue gak berani. Berapa kali gue harus bilang ke lo sih Na?” Ucapku kesal. “Terus lo mau gimana, Kia?” Tanya Nana lembut. “Gue mau lupain Kalfa. Gue yakin gue bisa. Sebentar lagi kita lulus. Gue yakin, gue akan dengan mudah lupain Kalfa.” Aku mengatakan hal itu dengan ucapan yang tegas dan yakin, tapi dengan hati yang penuh ketidak yakinan. “Ok kalo lo mau nya gitu. Cuma lo yang bisa nentuin lo harus gimana. Dan cuma hati lo yang bisa nunjukin apa yang harus lo lakuin. Semangat!” Nana berkata dengan senyum dan raut menyemangatiku. Ya, aku hanya berharap semua yang terbaik untuk diriku. Apapun itu.

***

“Kia, lo dicariin tuh.” Aku sedang membaca catatan biologi ku ketika Fira, teman sekelas ku memanggil.  “Siapa?” tanyaku. “Udah liat aja diluar sana.” Ucapnya sambil menaik turunkan alisnya. Oke ini aneh. Sikap Fira menunjukan ada sesuatu. Dan entah kenapa jantungku mulai berdetak lebih cepat. Semakin aku melangkahkan kaki ku menuju pintu kelas, semakin kencang juga debaran itu. Dan ketika aku di depan pintu. Aku melihatnya. Ya, itu dia. Aku hafal betul bagaimana sosok nya dari belakang. Kalfa.
Aku hanya bisa terdiam di tempatku. Jantungku seakan ingin melompat dan aku sesak. Seakan tidak ada oksigen di sekelilingku. Hal biasa yang aku alami ketika ada dia di dekatku. Tapi ini lebih lebih lebih dari itu. Karena dia mencariku. Ya, dia mencariku.
Ketika aku sedang mengontrol diriku untuk bersikap sewajarnya saja, Kalfa membalikan badannya. Aku terpaku lagi. Tak boleh! Kia kau jangan sampai berperilaku yang bisa membuat malu. Kontrol dirimu, Kia! Oh tidak bisa! Kalfa tersenyum kepadaku. Aku tak bisa mengontrol diri. Dia... sungguh tampan. Dan si tampan ini sedang memberikan senyum nya padaku.
“Kiafa, ini dari Bu Della. Katanya Bu Della minta tolong buat data anak-anak yang mau ikut perpisahan. Sama kontak orang tua mereka.” Suara ini masih tetap sama seperti ketika aku mendengar nya yang untuk pertama kali. Masih tetap indah dan membuat jantungku berdebar. Dia memberikan buku besar yang menjadi tugas ku dari Bu Della. Aku menerima nya. Dan dia pun tersenyum lagi. Lalu, dia membalikan badannya dan beranjak pergi. Tunggu! Aku belum mengucapkan terima kasih. Aku harus berbicara. Ayolah, Kia kontrol dirimu!
“Makasih... Kalfa.” Ucapku pelan. Suaraku bergetar. Aku berharap suara ku masih dapat dia dengar. Dia berhenti, lalu membalikan badannya. Dia memberiku senyum yang ke sekian kali. “Ok. Sama-sama.” Dan dia pun pergi. Aku terus melihatnya sampai dia berbelok di koridor.
 Aku masih tak menyangka hal ini akan terjadi. Aku membalikan badanku. Dan terus berjalan perlahan menuju ke tempat dudukku. Ketika aku ada di tengah kelas, aku tak bisa lagi menahannya. Aku melompat-lompat, berputar-putar, dan berteriak kecil mengungkapkan seberapa senang hatiku. Dan aku terdiam setelah cukup bagiku untuk melakukan hal itu. Mataku terpejam. Dan aku terdiam. Dan aku menyadari ada yang tidak beres dengan kelas. Kelas begitu sepi. Aku membuka mata dan terperangah. Teman-temanku sedang melihatiku dengan berbagai macam pandangan. Tapi hampir semua nya memberiku tatapan menggoda. Dan seketika bunyi suitan pun terdengar, disambut suitan yang lain, dan disambut dengan kata-kata mereka. “Uhuk Kiaaaa.” “Akhirnya Kia dapet peningkatan.” “Cieee Kiafaaa.” Oh tidak.
Ya teman-teman ku memang hampir semua nya tahu kalau aku menyukai Kalfa. Ini semua karena mulut Tia yang kadang tak punya rem. Dan berakhir dengan teman-teman sekelas ku tahu. Tapi aku bersyukur, mereka semua tidak membocorkannya. Ya. Kalau ada yang berani memberi tahu Kalfa, akan aku beri dia tangan mautku. Haha.
Aku duduk di tempat dudukku. Dan bisa dipastikan, Nana, Rere, dan Tia memandangi dengan pandangan menggoda. Dan aku hanya memberikan mereka senyum konyolku. Hari ini masuk ke dalam daftar hari terindah di dalam hidupku. The best day ever. Aku tak peduli lagi dengan ‘sesuatu yang baru’ yang aku putuskan tadi malam. Mungkin, kalian akan berpikir aku plin plan, tapi ya... memang benar aku ini plin plan jika berkaitan dengan Kalfa.

***

Aku butuh kamar mandi! Oh Ya Ampun! Aku sudah ingin ke kamar mandi sejak awal jam pelajaran ke dua, namun aku tahan karena jam tersebut adalah pelajaran Pak Deni, aku tak mau ketinggalan materi fisika. Aku tak ketinggalan saja nilai fisika ku buruk, bagaimana jika aku ketinggalan. Tapi sekarang aku benar-benar butuh ke kamar mandi! Aku berlari cepat menyusuri koridor sekolah yang terasa sangat jauh menuju ke kamar mandi. Oh sial! Ada Kalfa! Dan aku berhenti, lalu berbalik, dan berjalan kembali menuju kelas. Tapi kebutuhan ku tidak bisa di tunda lagi. Peduli amat dengan Kalfa! Aku lebih peduli dengan kebutuhan ku ini. Aku berbalik kembali. Dan Kalfa masih disana sedang berbicara dengan Rudi, ketua OSIS di sekolah kami. Aku berjalan cepat. Secepat yang aku bisa, karena ini sulit, kebutuhanku sudah diujung. Beberapa langkah lagi aku melewati Kalfa, dan..... bruk. Aku terjatuh. Sial! Sial! Sial! Aku malu sekali. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Oke. Berdiri. Lalu, berjalan dengan santai. Catat! Dengan santai. Ketika aku menarik napas dan bersiap untuk berdiri. Namun, ada tangan yang terjulur di depanku. Oh tidak! Kalfa! Apa ini akan berakhir seperti di film-film romantis? Kalfa menolong ku, Ya Ampun! Dengan gugup aku menerima uluran tangan Kalfa, dan menarik napas bersiap untuk mengucapkan terima kasih. Tetapi ketika aku menengadahkan wajahku, yang ada disana bukan wajah tampan Kalfa-ku. Tapi si wajah serius Rudi. “Hati-hati kalo jalan, Kiafa.” Aku hanya tersenyum kikuk kepada Rudi dan mengucapkan terima kasih. Aku melihat ke belakang Rudi dan mencari Kalfa, tapi Kalfa sudah tidak ada. Aku berjalan dengan rasa kecewa karena bukan Kalfa yang menolongku. Pada akhirnya, memang kami tak akan berakhir seperti di film-film romantis. Aku pun tersadar, kalau aku masih punya kebutuhan. Sial! Aku harus cepat!

***

Hah pusing! Sekarang ini aku dikamar, sedang belajar. Ya, belajar. Karena minggu depan aku akan menghadapi Ujian Nasional. Sebenarnya ketika di rumah aku jarang belajar, karena sudah bimbel di sekolah selama dua bulan terakhir ini. Tapi berhubung tinggal satu minggu lagi, ya mau tak mau aku harus belajar. Biologi ini catatannya segunung, ampun deh. Oke, cukup belajarnya. Aku mengambil handpone yang sudah dari sore tadi tak ku sentuh. Ada 3 pesan BBM. BC. BC. BC. Aku pun tersenyum sinis. Siapa juga yang akan mengirimimu pesan, Kia.
Aku membuka aplikasi LINE ku, dan segera membuka profil salah satu teman kontakku. Kalian tau siapa? Kalfa. Haha. Hebat kan aku bisa berteman dengannya di LINE ini. Hih, sebenarnya aku yang meng-invite nya. Untuk meng-invite nya saja butuh waktu dua jam untuk berpikir. Betapa payahnya Kia. Oh Kalfa lelah belajar. Sama denganku Kalfa, tapi sabar, hanya dua minggu lagi. Hihi.
Aku mematikan handpone ku, kemudian memejamkan mata. Dan muncul Kalfa. Seminggu lagi Ujian Nasional, itu berarti waktuku di sekolah pun tinggal sebentar. Dan itu berarti lagi, waktuku melihat Kalfa pun akan segera habis. Apa yang harus aku lakukan? Sampai saat ini, belum ada sama sekali keberanian muncul. Apa aku harus mengatakannya saat perpisahan? Oh tidak, tidak, aku tak mau. Yah, memang sepertinya aku ditakdirkan untuk tidak pernah menyatakan perasaan ku kepada Kalfa.


-Tbc-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar