Minggu, 07 Juni 2015

Pigeon



-SMA Budaya Bangsa, Lapangan Basket Indoor.

“REON! REON! REONNN!” Teriak siswi-siswi berseragam putih abu-abu yang berdiri berjajar di tribun lapangan. Hanya satu orang yang bisa membuat lapangan basket tersebut dipenuhi teriakan melengking. Orang itu, lebih tepatnya remaja laki-laki itu melempar senyum miring sesaat setelah mengantar langsung bola berwarna oranye ke ring. Begitu bola oranye itu masuk melewati ring, volume teriakan semakin meningkat hingga tidak ada yang mendengar peluit yang ditiup wasit. “SELESAI! TIME OUUUUUUT!” teriak wasit sekuat napasnya.

***

“Gila! Rasanya telinga gue masih bergema!” kata Aji sambil mengusap telinganya. “Gue yakin tuh cewek-cewek pulang dari sini suara pada kaya kodok” ucap Bimo dengan wajah kesalnya. Tawa khas laki-laki terdengar di ruang ganti ekstrakulikuler Basket SMA Budaya Bangsa. “Itu karena di luar emang masih ada cewek-cewek histeris penggemarnya Reon.” Terang Irfan sambil menunjuk punggung lebar dan berotot hasil olahraga rutin di pojok ruangan dengan jari telunjuknya.

“Tau ah. Gue balik dulu ya.” Kata Reon sambil berbalik dengan tas olahraga di tangan kirinya. “Gak ikut kita makan-makan bentar Re? Ini kan berkat lo juga kita menang.” Tanya Fendi yang duduk di pojok ruangan dengan kening berkerut bingung. “Enggak deh. Gue udah di tungguin nih. Duluan ya, bro!” Pamit Reon sambil mengangkat telapak tangan kanannya ke arah anggota yang lain. Semua remaja laki-laki di ruangan itu tahu jelas kemana tempat yang akan dituju Reon, si mantan playboy kelas ikan hiu itu. “Salam buat cewek lo, bro!” Ucap Irfan cepat. Reon pun hanya mengacungkan jempolnya kearah Irfan.

***

-Rumah Sakit Fatmawati, Cilandak, Jakarta Selatan.

Reon membuka pelan pintu kamar rawat inap rumah sakit swasta tersebut. “Hai, Pigeon. Apa kabar?” Tanya Reon dengan senyum sedih di wajahnya. Reon pun menghampiri perempuan yang terbaring lemah tak berdaya dengan segala macam peralatan rumah sakit yang terhubung dengan tubuhnya. Mengecup pelan kening perempuan itu, lalu Reon duduk di samping kasur dan tersenyum.

“Aku punya kabar gembira buat kamu. Tim basket sekolah kita menang ngelawan tim basket SMA Harapan Bangsa.” Ucap Reon sambil mengusap rambut kekasihnya itu. “Tadi si Irfan titip salam buat kamu. Mau kamu kasih salam balik nggak?” Reon menghela napas kasar, sadar dia tak akan mendapat jawaban dari ucapan-ucapannya.

“Aku kangen kamu, Pigeon. Aku kangen senyum kamu, tawa kamu, suara kamu, dan semua hal tentang kamu. Rasanya aku mau balik ke kejuaraan basket tahun lalu. Karena tahun lalu kamu ada disamping aku, kamu selalu nyemangatin aku, kamu nggak pernah absen buat ngingetin jadwal latihan aku, dan kamu nggak pernah berhenti marah-marah sama siswi-siswi penggemar aku yang menurut kamu, mereka cuma bisa ganggu konsentrasi aku. Padahal aku tau, selain itu kamu juga kesal sama mereka, karena suara mereka ketika nyemangatin aku dari tribun lebih kencang dari kamu. Harusnya otak kamu yang pintar itu bisa berpikir, tentu saja suara mereka lebih keras dari kamu. Mereka yang entah ada berapa orang, dan kamu yang sendirian.” Reon tertawa di kalimat terakhir. “Tapi hal penting yang harus kamu tahu, keberadaan kamu disana lebih dari cukup untuk buat aku semangat dibanding beribu-ribu siswi-siswi itu.” Reon tersenyum lembut.

Reon membawa tangan kekasihnya ke pipi nya. Mengusap lembut pipinya dengan tangan kekasihnya. “Tangan kamu hangat Pigeon, masih sama seperti dua bulan yang lalu.” Reon memejamkan mata, menikmati hangatnya tangan yang dulu sering membelai pipinya. Dan perlahan, air mata menetes dari matanya. Dia membiarkannya. Dua bulan ini Reon merasa dirinya menjadi laki-laki lemah yang tidak berdaya. Ya, itu semua karena perempuan ini, Maharani Aura. Atau biasa disapa Hani. Dan Pigeon, adalah panggilan khusus dari Reon untuk Hani, karena menurut Reon sosok Hani seperti burung Merpati yang cantik.

Sudah dua bulan Hani tidak sadarkan diri, dia koma. Ini karena kecelakan yang menimpanya. Tabrak lari. Dan Reon merasa bersalah karena tidak ada di sisi Hani, sehingga dia tidak dapat melindunginya. Dipikiran Reon dia selalu tidak bisa melindungi Hani, dia selalu menyakitinya. Padahal, tidak begitu. Seperti Reon yang menganggap Hani adalah pusat dunia nya, Hani pun juga begitu. Bagi Hani, Reon adalah segalanya, pusat dunianya, dan pusat kebahagiaannya.

“Aku harus pulang Pigeon. Aku bau. Aku harus mandi. Besok pagi aku kesini lagi. Aku berjanji.” Reon berdiri dari duduknya. Dan dia membungkuk, mengistirahatkan dahinya ke dahi kekasihnya. Dahi mereka bersentuhan. Dan dengan segala keresahan, kekhawatiran, kesedihan, dan rasa cinta yang dalam, Reon berkata “Aku mencintaimu, Pigeon. Dan akan selamanya begitu. Aku berjanji.” Dan Reon mengecup pipi hani, cukup lama. Sampai akhirnya dia berdiri, dan berjalan menuju pintu. Melihat kembali kearah Pigeon-nya. Dan Reon akhirnya keluar dari kamar itu. Dengan langkah yang berat, laki-laki itu pulang ke rumahnya.

Dan Reon sama sekali tak tahu, dan pasti dia tak akan tahu. Bahwa hari itu, adalah hari terakhir dia bisa melihat kekasihnya, Hani-nya, Pigeon-nya dalam kondisi jantung yang masih berdetak. Setelah hari itu, pusat dunia Reon telah menghilang dan Reon mungkin akan hancur. Tapi kita tak tahu, apa yang menunggu Reon dimasa depan.

-END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar